Matahari sudah berada tepat di atas kepala, suhu udara siang itu pun sudah hampir mendekati 31 derajat Celcius, tetapi perempuan separuh baya itu masih saja menjajakan sayur-sayuran dagangannya di atas tampah kayunya. Ibu Mursinah, wanita yang sering disapa “Mamenk” dan memilki perawakan yang tidak terlalu tinggi ini sudah menjadi tukang sayur keliling selama 2 tahun.
Mamenk memiliki warna kulit yang gelap, mungkin karena setiap hari dia harus berjualan dibawah terik matahari yang kadang-kadang teriknya tidak menentu. Dandanan Mamenk sedikit funky dengan raut muka seperti orang Jawa tulen dibalut topi kupluk yang selalu ia pakai setiap ia berjualan. Satu lagi ciri khas yang sangat membuat Mamenk seperti ibu-ibu yang lain dari biasanya adalah sebatang rokok yang selalu ia hisap di tengah-tengah bibirnya yang berwarna hitam.
Ketika ditanya kenapa di usianya yang hampir menginjak 50 tahun itu ia masih menjadi tukang sayur keliling, ia menjawab dengan sedikit nada canda dan tawa, terlihat juga gigi-giginya yang sudah ompong termakan usia.
“Kalau bukan Mamenk yang nyari duit, siapa lagi yang mau ngebiayain uang sekolah si May?Kakak-kakaknya sudah punya tanggungan hidup masing-masing, mereka harus membiayai keluarga barunya, yaitu anak dan istrinya”
Mamenk memang masih punya tanggungan satu anak lagi, yaitu si May. Anak bontotnya itu sekarang masih duduk di kelas 9 salah satu SMP swasta di Kota Tangerang. Mamenk memiliki 6 orang anak 3 orang anak Mamenk sudah menikah. Mereka semua sudah memiliki tanggungannya masing-masing, yaitu anak dan istrinya. Sedangkan anak kelimanya hanya bekerja sebagai cleaning service di salah satu mall di Kota Tangerang, gajinya itu hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, apabila ada sedikit lebih dari gajinya tersebut baru dia membantu Mamenk untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari.
Setiap pukul 3 pagi Mamenk harus sudah bangun dan melawan dinginnya udara subuh untuk melangkahkan kaki-kaki tuanya menempuh perjalanan 3 km menuju pasar dan belanja sayur-mayur yang akan dia jual kembali. Setiap hari tubuh tuanya yang sudah mulai renta itu selalu menjalani aktifitas yang sama. Semua itu hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dan membiayai uang sekolah anaknya.
Tidak kurang dari 15 kg setiap harinya, Mamenk harus membawa beban seberat itu di atas kepalanya, Mamenk memang sudah 50 tahun tetapi tenaganya seperti masih usia-usia anak remaja yang masih sangat kuat mengangkat beban seberat itu. Memang sangat kuat perempuan renta itu, dapat dibayangkan oleh akal normal manusia, umur 50 tahun biasanya seorang perempuan sudah tidak akan kuat mengangkat beban 10 kg, apalagi sampai 15 kg.
Penghasilan Mamenk dari berjualan sebagai tukang sayur-sayuran keliling biasanya sebesar Rp. 350.000,- perhari. Dari hasil itu biasanya Mamenk mendapatkan keuntungan sebesar 15% dan langsung ditabung untuk menambah modal usahanya. Tetapi kadang-kadang Mamenk bisa mendapatkan pendapatan yang lebih dari Rp. 350.000,- ataupun kurang dari Rp. 350.000,-. Namanya juga berdagang pasti setiap saat ada saja waktu dimana dagangan yang dijual laku keras, dan kadang pula masih banyak sisa dagangan yang belum terjual. Hal ini memang wajar. Semua itu tergantung para pembeli yang kadang-kadang sangat ramai dan sepi.
Pernah di suatu malam Mamenk bercerita tentang anaknya si May yang sebentar lagi mau lulus dari SMP. Mamenk mengatakan kepada si May agar ia tidak usah melanjutkan sekolahnya lagi ke SMA, karena Mamenk sudah merasa tidak sanggup lagi membiayainya. Biaya pendidikan saat ini semakin lama semakin mahal, dari mana Mamenk bisa mendapatkan uang bernominal jutaan untuk membayar uang masuk ke SMA. Itu baru uang masuk saja, belum lagi uag SPP yang setiap bulannya harus dibayar. Dengan nada yang sangat menyentuh hati, si May menjawab pernyataan ibundanya itu dengan nada yang sangat sedih dan mengiris hati.
“Emak udah enggak sayang lagi ya, sama May? May masih pengen terus sekolah. May pengen jadi orang sukses yang bisa ngebahagiain Emak” ujarnya.
Sontak suasana hening malam itu membuat suasana semakin mengharu-biru. Setiap orang pasti akan terharu mendengar jawaban dari gadis yang masih memiliki tekad kuat untuk mengemban ilmu. Mamenk merasa kasihan dan tidak tega kepada May, karena anak bontotnya itu masih memiliki keinginan untuk belajar yang masih sangat besar. Apa boleh buat, Mamenk sudah termakan usia untuk mencari nafkah, tubuhnya sudah tidak kuat untuk membiayai uang sekolah anak tercintanya itu.
Memang sangat banyak kasus di Indonesia yang semakin hari semakin membuat orang bingung. Kenapa orang yang merasa mampu tetapi sudah tidak punya keinginan untuk mencari ilmu, sedangkan orang yang keinginannya sangat besar untuk mencari ilmu harus terhenti karena masalah tidak memiliki biaya. Tuhan memang adil, sangat banyak sifat manusia yang sebenarnya harus dimengerti satu-persatu. Keberagaman sifat dan kemauan itu seharusnya dijadikan sebagai alat tolong menolong antar umat manusia agar mereka dapat mengerti dan bersyukur karena sangat banyak rizki yang dikirimkan oleh Allah swt.
*****
Mamenk tinggal di rumah yang didirikannya bersama sang suami tercinta. Rumah itu didirikan ketika Mamenk dan suaminya baru merintis usaha kecil-kecilan. Suami Mamenk bekerja sebagai tukang kelontongan, menjual mainan anak-anak. Kala itu Mamenk tidak harus memikirkan mau makan apa setiap harinya, karena sudah ada sang suami yang mencari nafkah. Walaupun untung dari hasil menjual mainan anak-anak tidak terlalu besar, Mamenk sangat bersyukur asalkan anak-anak tercintanya tidak kelaparan dan semua kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Semenjak kematian suaminya sepuluh tahun silam, Mamenk harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, menyekolahkannya dan mencukupi kebutuhan hidup mereka semua. Sebelum menjadi tukang sayur, Mamenk pernah bekerja sebagai kuli ikan cue, saat itu kondisinya Mamenk masih memilki tanggungan 2 orang anaknya yang masih sekolah, yaitu May dan Agam.
Semenjak usaha ikan cue bangkrut, Mamenk menggunakan hasil tabungannya selama menjadi kuli ikan cue untuk dijadikan modal berjualan sayur-sayuran. Sebelum menjadi kuli ikan cue dan berjualan sayur-sayuran, Mamenk juga pernah menjadi pencari barang-barang rongsok, sampai menjadi kuli bangunan pun pernah ia lakukan. Itu semua ia lakukan hanya untuk keluarganya, melihat anak-anaknya tidak kelaparan, Mamenk sudah sangat bahagia.
Memang sangat tidak tega melihat perempuan paruh baya itu masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Seharusnya di usianya yang memasuki kepala 5 itu, Mamenk menghabiskan masa tuanya dengan bersantai-santai melihat kesuksesan anak-anaknya, tetapi hidup memang berat dan butuh perjuangan. Mamenk harus terus berjuang untuk keluarganya.
*****
Seperti pagi-pagi biasanya Mamenk selalu mampir sebentar di tempat biasa ia berjalan, sebelum ia melanjutkan menjual dagangannya keliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Dengan semangat dan keriangan yang setiap pagi selalu dia pancarkan tentu saja, sama seperti hari-hari biasanya. Mamenk memang orang yang sangat periang, karena jarang sekali wajahnya terlihat murung. Setiap hari selalu saja tersenyum dalam melayani para pembelinya.
Pagi itu sepertinya Mamenk sudah berhasil menjual setengah dari dagangannya. Terlihat di atas tampah kayunya sudah lumayan kosong dagangan sayur-sayurannya. Mungkin hari ini hari yang cukup baik bagi Mamenk, karena dia berhasil menjual dagangannya dengan cepat. Biasanya sudah pukul 12 siang masih saja ada sisa-sisa dagangan yang belum berhasil ia jual. Mungkin itulah suka dukanya menjadi seorang pedagang. Setiap hari tidak akan tahu berapa penghasilan yang ia akan dapatkan, karena semua itu tergantung dari para pembeli.
*****
Di mata para tetangganya, Mamenk adalah sosok yang sangat tegar. Semua masalah dalam hidupnya biasanya selalu ia selesaikan sendiri tanpa harus meminta bantuan para tetangga maupun orang sekitarnya. Mamenk memang orang yang tidak mau membuat orang lain susah karena dia, jadi apabila ada masalah dia selalu berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, karena dia yakin Allah swt tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya.
Di kehidupannya Mamenk sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dia selalu memegang setiap kata perkataannya, karena menurut Mamenk apabila orang itu sudah bisa bersikap jujur, maka orang itu adalah orang yang bisa memegang komitmen. Mamenk akan 100% percaya kepada orang tersebut, tetapi apabila ia sudah merasa dibohongi maka jangan harap Mamenk akan percaya lagi satu kata pun dengan orang yang membohonginya itu.
Di mata kedua orang anaknya, May dan Agam, Mamenk adalah sosok yang disiplin dan tegas. Memang raut mukanya yang sedikit galak bisa membuat kedua orang anaknya itu takut dengannya. Di balik raut wajahnya yang galak, sebenarnya Mamenk adalah orang yang sayang dengan anak-anaknya.
“Emak itu galak kalau May enggak mau ngedengerin nasehatnya, terus kalau May main enggak inget waktu juga emak bakalan marah besar. Emak enggak mau May bernasib sama seperti emak, jadi tukang sayur keliling,” ujar May anak bungsu Mamenk.
Apabila dipikir lebih lanjut, mana ada orang tua yang mau nasib anaknya sama seperti orang tuanya. Setidaknya dengan pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya. Setiap orang tua pasti menginginkan kesuksesan bagi anak-anaknya. Agar perjuangan yang selama ini ditekuni oleh para orang tua dapat terbayar oleh kesuksesan anak-anaknya.
Sosok Mamenk memang patut dicontoh oleh orang-orang yang jalan hidupnya memiliki nasib yang sama dengannya, menjadi single parent untuk anak-anaknya dan berjuang untuk menghidupi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Mamenk tidak mengenal rasa lelah dalam mengarungi alur hidupnya, semua itu ia jalankan dengan rasa bersyukur dan selalu berusaha sebaik mungkin.
“Hidup ini sudah susah, jadi enggak usah ditambah susah. Jalanin aja sekuat tenaga, jangan lupa selalu berdoa dan berikhtiar kepada Allah swt, maka niscaya Allah akan membayar semua perjuangan kita dengan balasan yang setimpal dengan apa yang kita lakukan dan perbuat,” pesan Mamenk diakhir obrolan kami.
Mamenk memiliki warna kulit yang gelap, mungkin karena setiap hari dia harus berjualan dibawah terik matahari yang kadang-kadang teriknya tidak menentu. Dandanan Mamenk sedikit funky dengan raut muka seperti orang Jawa tulen dibalut topi kupluk yang selalu ia pakai setiap ia berjualan. Satu lagi ciri khas yang sangat membuat Mamenk seperti ibu-ibu yang lain dari biasanya adalah sebatang rokok yang selalu ia hisap di tengah-tengah bibirnya yang berwarna hitam.
Ketika ditanya kenapa di usianya yang hampir menginjak 50 tahun itu ia masih menjadi tukang sayur keliling, ia menjawab dengan sedikit nada canda dan tawa, terlihat juga gigi-giginya yang sudah ompong termakan usia.
“Kalau bukan Mamenk yang nyari duit, siapa lagi yang mau ngebiayain uang sekolah si May?Kakak-kakaknya sudah punya tanggungan hidup masing-masing, mereka harus membiayai keluarga barunya, yaitu anak dan istrinya”
Mamenk memang masih punya tanggungan satu anak lagi, yaitu si May. Anak bontotnya itu sekarang masih duduk di kelas 9 salah satu SMP swasta di Kota Tangerang. Mamenk memiliki 6 orang anak 3 orang anak Mamenk sudah menikah. Mereka semua sudah memiliki tanggungannya masing-masing, yaitu anak dan istrinya. Sedangkan anak kelimanya hanya bekerja sebagai cleaning service di salah satu mall di Kota Tangerang, gajinya itu hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, apabila ada sedikit lebih dari gajinya tersebut baru dia membantu Mamenk untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari.
Setiap pukul 3 pagi Mamenk harus sudah bangun dan melawan dinginnya udara subuh untuk melangkahkan kaki-kaki tuanya menempuh perjalanan 3 km menuju pasar dan belanja sayur-mayur yang akan dia jual kembali. Setiap hari tubuh tuanya yang sudah mulai renta itu selalu menjalani aktifitas yang sama. Semua itu hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dan membiayai uang sekolah anaknya.
Tidak kurang dari 15 kg setiap harinya, Mamenk harus membawa beban seberat itu di atas kepalanya, Mamenk memang sudah 50 tahun tetapi tenaganya seperti masih usia-usia anak remaja yang masih sangat kuat mengangkat beban seberat itu. Memang sangat kuat perempuan renta itu, dapat dibayangkan oleh akal normal manusia, umur 50 tahun biasanya seorang perempuan sudah tidak akan kuat mengangkat beban 10 kg, apalagi sampai 15 kg.
Penghasilan Mamenk dari berjualan sebagai tukang sayur-sayuran keliling biasanya sebesar Rp. 350.000,- perhari. Dari hasil itu biasanya Mamenk mendapatkan keuntungan sebesar 15% dan langsung ditabung untuk menambah modal usahanya. Tetapi kadang-kadang Mamenk bisa mendapatkan pendapatan yang lebih dari Rp. 350.000,- ataupun kurang dari Rp. 350.000,-. Namanya juga berdagang pasti setiap saat ada saja waktu dimana dagangan yang dijual laku keras, dan kadang pula masih banyak sisa dagangan yang belum terjual. Hal ini memang wajar. Semua itu tergantung para pembeli yang kadang-kadang sangat ramai dan sepi.
Pernah di suatu malam Mamenk bercerita tentang anaknya si May yang sebentar lagi mau lulus dari SMP. Mamenk mengatakan kepada si May agar ia tidak usah melanjutkan sekolahnya lagi ke SMA, karena Mamenk sudah merasa tidak sanggup lagi membiayainya. Biaya pendidikan saat ini semakin lama semakin mahal, dari mana Mamenk bisa mendapatkan uang bernominal jutaan untuk membayar uang masuk ke SMA. Itu baru uang masuk saja, belum lagi uag SPP yang setiap bulannya harus dibayar. Dengan nada yang sangat menyentuh hati, si May menjawab pernyataan ibundanya itu dengan nada yang sangat sedih dan mengiris hati.
“Emak udah enggak sayang lagi ya, sama May? May masih pengen terus sekolah. May pengen jadi orang sukses yang bisa ngebahagiain Emak” ujarnya.
Sontak suasana hening malam itu membuat suasana semakin mengharu-biru. Setiap orang pasti akan terharu mendengar jawaban dari gadis yang masih memiliki tekad kuat untuk mengemban ilmu. Mamenk merasa kasihan dan tidak tega kepada May, karena anak bontotnya itu masih memiliki keinginan untuk belajar yang masih sangat besar. Apa boleh buat, Mamenk sudah termakan usia untuk mencari nafkah, tubuhnya sudah tidak kuat untuk membiayai uang sekolah anak tercintanya itu.
Memang sangat banyak kasus di Indonesia yang semakin hari semakin membuat orang bingung. Kenapa orang yang merasa mampu tetapi sudah tidak punya keinginan untuk mencari ilmu, sedangkan orang yang keinginannya sangat besar untuk mencari ilmu harus terhenti karena masalah tidak memiliki biaya. Tuhan memang adil, sangat banyak sifat manusia yang sebenarnya harus dimengerti satu-persatu. Keberagaman sifat dan kemauan itu seharusnya dijadikan sebagai alat tolong menolong antar umat manusia agar mereka dapat mengerti dan bersyukur karena sangat banyak rizki yang dikirimkan oleh Allah swt.
*****
Mamenk tinggal di rumah yang didirikannya bersama sang suami tercinta. Rumah itu didirikan ketika Mamenk dan suaminya baru merintis usaha kecil-kecilan. Suami Mamenk bekerja sebagai tukang kelontongan, menjual mainan anak-anak. Kala itu Mamenk tidak harus memikirkan mau makan apa setiap harinya, karena sudah ada sang suami yang mencari nafkah. Walaupun untung dari hasil menjual mainan anak-anak tidak terlalu besar, Mamenk sangat bersyukur asalkan anak-anak tercintanya tidak kelaparan dan semua kebutuhan hidupnya terpenuhi.
Semenjak kematian suaminya sepuluh tahun silam, Mamenk harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, menyekolahkannya dan mencukupi kebutuhan hidup mereka semua. Sebelum menjadi tukang sayur, Mamenk pernah bekerja sebagai kuli ikan cue, saat itu kondisinya Mamenk masih memilki tanggungan 2 orang anaknya yang masih sekolah, yaitu May dan Agam.
Semenjak usaha ikan cue bangkrut, Mamenk menggunakan hasil tabungannya selama menjadi kuli ikan cue untuk dijadikan modal berjualan sayur-sayuran. Sebelum menjadi kuli ikan cue dan berjualan sayur-sayuran, Mamenk juga pernah menjadi pencari barang-barang rongsok, sampai menjadi kuli bangunan pun pernah ia lakukan. Itu semua ia lakukan hanya untuk keluarganya, melihat anak-anaknya tidak kelaparan, Mamenk sudah sangat bahagia.
Memang sangat tidak tega melihat perempuan paruh baya itu masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Seharusnya di usianya yang memasuki kepala 5 itu, Mamenk menghabiskan masa tuanya dengan bersantai-santai melihat kesuksesan anak-anaknya, tetapi hidup memang berat dan butuh perjuangan. Mamenk harus terus berjuang untuk keluarganya.
*****
Seperti pagi-pagi biasanya Mamenk selalu mampir sebentar di tempat biasa ia berjalan, sebelum ia melanjutkan menjual dagangannya keliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Dengan semangat dan keriangan yang setiap pagi selalu dia pancarkan tentu saja, sama seperti hari-hari biasanya. Mamenk memang orang yang sangat periang, karena jarang sekali wajahnya terlihat murung. Setiap hari selalu saja tersenyum dalam melayani para pembelinya.
Pagi itu sepertinya Mamenk sudah berhasil menjual setengah dari dagangannya. Terlihat di atas tampah kayunya sudah lumayan kosong dagangan sayur-sayurannya. Mungkin hari ini hari yang cukup baik bagi Mamenk, karena dia berhasil menjual dagangannya dengan cepat. Biasanya sudah pukul 12 siang masih saja ada sisa-sisa dagangan yang belum berhasil ia jual. Mungkin itulah suka dukanya menjadi seorang pedagang. Setiap hari tidak akan tahu berapa penghasilan yang ia akan dapatkan, karena semua itu tergantung dari para pembeli.
*****
Di mata para tetangganya, Mamenk adalah sosok yang sangat tegar. Semua masalah dalam hidupnya biasanya selalu ia selesaikan sendiri tanpa harus meminta bantuan para tetangga maupun orang sekitarnya. Mamenk memang orang yang tidak mau membuat orang lain susah karena dia, jadi apabila ada masalah dia selalu berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, karena dia yakin Allah swt tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya.
Di kehidupannya Mamenk sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dia selalu memegang setiap kata perkataannya, karena menurut Mamenk apabila orang itu sudah bisa bersikap jujur, maka orang itu adalah orang yang bisa memegang komitmen. Mamenk akan 100% percaya kepada orang tersebut, tetapi apabila ia sudah merasa dibohongi maka jangan harap Mamenk akan percaya lagi satu kata pun dengan orang yang membohonginya itu.
Di mata kedua orang anaknya, May dan Agam, Mamenk adalah sosok yang disiplin dan tegas. Memang raut mukanya yang sedikit galak bisa membuat kedua orang anaknya itu takut dengannya. Di balik raut wajahnya yang galak, sebenarnya Mamenk adalah orang yang sayang dengan anak-anaknya.
“Emak itu galak kalau May enggak mau ngedengerin nasehatnya, terus kalau May main enggak inget waktu juga emak bakalan marah besar. Emak enggak mau May bernasib sama seperti emak, jadi tukang sayur keliling,” ujar May anak bungsu Mamenk.
Apabila dipikir lebih lanjut, mana ada orang tua yang mau nasib anaknya sama seperti orang tuanya. Setidaknya dengan pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya. Setiap orang tua pasti menginginkan kesuksesan bagi anak-anaknya. Agar perjuangan yang selama ini ditekuni oleh para orang tua dapat terbayar oleh kesuksesan anak-anaknya.
Sosok Mamenk memang patut dicontoh oleh orang-orang yang jalan hidupnya memiliki nasib yang sama dengannya, menjadi single parent untuk anak-anaknya dan berjuang untuk menghidupi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Mamenk tidak mengenal rasa lelah dalam mengarungi alur hidupnya, semua itu ia jalankan dengan rasa bersyukur dan selalu berusaha sebaik mungkin.
“Hidup ini sudah susah, jadi enggak usah ditambah susah. Jalanin aja sekuat tenaga, jangan lupa selalu berdoa dan berikhtiar kepada Allah swt, maka niscaya Allah akan membayar semua perjuangan kita dengan balasan yang setimpal dengan apa yang kita lakukan dan perbuat,” pesan Mamenk diakhir obrolan kami.

0 komentar:
Posting Komentar