Rabu, 02 Februari 2011

Surat Undangan Abang Nadih

Matahari sudah menunjukkan sinarnya di pagi yang cerah itu. Saya lekas berangkat dari rumah untuk pergi kerumah Abang Nadih. Abang Nadih memiliki profesi yang lain dari kebanyakan pekerjaan normal. Dia berprofesi sebagai tukang pengantar surat undangan acara-acara resepsi pernikahan atau sunatan. Usianya sudah mendekati 50 tahun, tetapi dia masih kuat berjalan sejauh 6 km dengan kaki-kaki separuh bayanya itu. Bang Nadih berjalan kaki hanya untuk menyebarkan surat undangan ke rumah-rumah yang diundang oleh pemilik hajat.

Tidak mudah menjalani pekerjaan seperti itu, selain kita harus tau seluk beluk jalan dan alamat-alamat rumah yang ingin kita kunjungi, kita juga harus pintar-pintar memikirkan rumah-rumah mana saja dulu yang harus didatangi agar rute yang ditempuh tidak memakan waktu yang terbuang dua kali.

Pagi itu, dirumahnya yang berukuran tidak terlalu besar. Saya melihat tubuh besar itu sedang memilah-milah surat-surat undangan yang akan diantarkannya hari ini. Abang Nadih memiliki perawakan agak gemuk, beratnya sekitar 90 kg dengan tinggi sekitar 160 cm. Wajahnya bersih tanpa ada kumis dan jenggot. Terlihat kerutan-kerutan di wajahnya sudah cukup banyak, menandakan usianya yang tidak muda lagi.

“Sebelum nganterin undangan-undangan ini, mendingan di pilih-pilih dulu. Mana alamat rumah yang satu daerah atau tetanggaan. Biar gampang nanti ngasihinnya. Udah gitu kita ga buang-buang waktu bolak-balik kalau ada undangan yang salah” ujarnya dengan ramah

Abang Nadih sudah menekuni pekerjaannya itu selama sepuluh tahun, agak aneh memang bekerja hanya untuk mengantarkan surat undangan pernikahan atau sunatan dari pelanggannya yang akan menggelar hajatannya. Tanpa kita sadari ternyata ada juga pekerjaan dibidang jasa untuk mengantarkan surat-surat undangan untuk acara resepsi pernikahan dan sunatan.

Abang Nadih tinggal bersama Ayahnya dan Adik-adiknya di rumah itu. Ia memang masih belum memiliki istri di usianya yang sudah matang itu, tetapi ia tidak pernah merasa kesepian dikala ia tiba dirumah.

“Kalo lagi ga ada kerjaan, ya biasanya di rumah aja. Kumpul sama keluarga, beres-beres rumah” ungkapnya dengan canda tawa

Mungkin di Indonesia memang cukup aneh ada pemuda di usia yang mendekati separuh abad itu tetapi belum memiliki pasangan hidup, tapi itu semua pilihan yang sudah di ambil oleh Bang Nadih. Abang Nadih tidak pernah sekalipun menyesali pilihan hidupnya, karena menurutnya Jodoh, Rizki, Maut dan Takdir sudah diatur oleh Allah Swt.

Ketika saya tanya pendidikan terakhirnya, Abang Nadih menjawab dengan cepat bahwa dia tidak bersekolah, jangankan lulus Sekolah Dasar (SD), sekolah TK juga ia tidak pernah. Walaupun Abang Nadih tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, tetapi ia bisa membaca dan menulis. Ini merupakan sesuatu yang menarik, belajar itu ternyata tidak hanya di bangku sekolah. Di lingkungan kita tinggal juga kita bisa mempelajari banyak hal yang orang lain tidak ketahui.

“Saya memang tidak sekolah, tetapi kalau membaca dan menulis saya bisa kok, klo ga bisa baca sama nulis, bagaimana bisa saya mengantarkan surat-surat ini ke alamat-alamat yang dituju” ujarnya dengan senyum yang melingkar di mulutnya.

Abang Nadih memiliki sikap yang tegas, apabila dia melihat suatu kesalahan. Dia akan segera menegurnya. Selain bekerja sebagai Pengantar Surat Undangan, Abang Nadih juga berprofesi sebagai seorang guru ngaji untuk anak-anak kecil dan remaja dilingkungan kampung Buaran Kandang Besar. Profesi ini merupakan suatu kebanggaan baginya bisa mengajarkan ilmu Al-Qur’an kepada penerus-penerus bangsa kelak, karena walaupun sudah ada ilmu pendidikan, Ilmu Agama jangan sampai dilupakan.

Gaji Abang Nadih sebagai seorang pengantar surat undangan pernikahan biasanya sebesar Rp 300.000 untuk menyebarkan 500-1000 lembar undangan, tetapi upah itu tidak tentu, tergantung para pemilik acara yang membayarnya berapa.

“Sebenarnya saya dibayar seikhlas yang punya acara saja mau bayar berapa, saya tidak pernah menargetkan bayaran yang harus saya terima berapa. Kadang-kadang ada yang kasih Rp 100.000, Rp. 150.000, Rp. 300.000, Rp 400.000, tetapi kebanyakan sih Rp 300.000. Jadi itu bisa dibilang sebagai umumnya upah saya setiap ada kerjaan seperti ini. Uang itu biasanya untuk mengantarkan 500 sampai 1000 lembar undangan yang diberikan kepada saya” jelasnya

Gaji sebesar itu biasanya ia tabung sebagian dan sisanya untuk ikut membantu-bantu membeli kebutuhan dapur keluarganya. Maklum Adik-adik Abang Nadih yang sudah menikah masih ada yang tinggal bareng bersama keluarga. Dari ke 5 orang adik Abang Nadih, sudah 3 orang yang menikah dan tinggal bersama keluarganya masing-masing, kecuali adiknya yang paling bungsu. Walaupun ia sudah menikah, tetapi tetap saja tinggal bersama keluarganya tidak pisah dari orang tua. Sedangkan kedua orang adiknya yang masih lajang, masing-masing bekerja sebagai staff kantin di Bioskop 21 Mall Metropolis Kota Tangerang dan yang satu lagi bekerja sebagai Tukang Parkir di pelataran Bank BRI di daerah Ahmad Yani, Kota Tangerang.

Sebagai anak tertua di keluarganya, tentu saja Abang Nadih ingin memberikan contoh-contoh yang baik bagi kelima adiknya, mengajarkan semua hal-hal baik, dan selalu menasehati kelima adiknya tersebut apabila mereka semua sedang bertengkar.

“Saya ini kan anak paling tertua di keluarga, jadi saya harus memberikan contoh-contoh sikap yang baik dan positif. Kalau tidak begitu saya sangat khawatir adik-adik saya nanti berbuat hal-hal yang negatif dan mencoreng nama baik keluarga” jelasnya

Abang Nadih dimata keluarganya merupakan pribadi yang mandiri, tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya, tidak neko-neko dan selalu berbagi kepada keluarga apabila ia memiliki rizki yang lebih. Selain sebagai salah satu tulang punggung keluarga, Abang Nadih juga sangat perduli dengan kondisi adik-adiknya yang sudah mulai dewasa dan Ayahnya yang sudah sakit-sakitan Akhir-akhir ini.

“Abang Nadih itu orangnya galak, tapi galaknya ini buat kebaikan. Sebenarnya Tegas sih bukan galak, tapi suka teriak-teriak gitu kalo lagi nasehatinnya. Ya saya pikir itu sama aja kaya galak” ujar Aris, Adik keempat dari Abang Nadih.

0 komentar: