Dua puluh menit lebih, dia mengulur waktu dari perjanjian awal. Diluar sudah terlalu siang sebenarnya sekarang, seharusnya sejak jam sepuluh tadi dia datang dan kami bisa langsung pergi. Menunggu memang bukan hal yang dengan gampang akan disukai siapapun, termasuk saya. Apalagi pria tambun satu ini memang punya kebiasaan melupakan janji yang telah dibuat. Dengan kata lain bisa dibilang memang pria yang bernama lengkap Ogi Wira Setia ini selalu molor dari setiap jadwal kegiatannya. Cermin orang indonesia sejati.
Sudah jadi kebiasaan orang Indonesia, datang terlambat. Bukan bermaksud menyamakan semua orang tapi mungkin hanya saja saya belum bisa menerima kebiasaan tersebut karena saya sangat menghargai waktu.
Akhirnya tubuh tambunnya terlihat juga didepan rumah saya, dari rumah saya kami memulai perjalanan ke Kota tua. Dari rumah saya kami naik angkutan umum B.02 jurusan kali deres-serpong. Tujuan pertama kami ke terminal Kalideres untuk selanjutnya kami menggunakan trans jakarta dari sana. Hal tidak mengenakan kemudian saya harus duduk dekat pintu di angkutan umum sedangkan Ogi dengan nyamannya dia duduk didalam dan dapat tempat luas untuk duduk. Tiba di shelter trans jakarta kali deres ternyata saya pun harus menunggu lagi dua teman saya.
Siang itu kondisi shelter trans jakarta kali deres lumayan lenggang, udara terasa panas tapi karena sudah terbiasa dengan udara Serang yang juga memang diatas rata-rata suhu wilayah lain, saya menjadi terbiasa. Entah bagaimana dengan Ogi, peluh sudah membasahi kaos putih yang dikenakannya. Ada dua bangku di shelter tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk menunggu dua teman kami yang masih dalam perjalanan. Entah mereka baru sampai dimana sekarang.
Ogi menghamburkan lamunan saya yang sedang mengatur mood saya waktu itu.
“Much, beli minum di mesin minuman itu yuk. Berapa yah harganya? Minta aja sama mbak-mbak yang jaga. Dikasih gratis tau....”ujarnya.
Saya langsung aneh sendiri sebenarnya.
“Iya dikasih gratis. Tapi lo striptise dulu dan cium mbak-mbaknya.”balas saya.
Saya pikir usaha Ogi akan berhenti disitu, tapi keanehan dia memang tidak akan pernah ditebak. Ogi benar-benar menghampiri mbak-mbak penjaga mesin minuman tersebut. Eitzz... tapi dia tidak melakukan hal seperti yang saya sarankan diawal-tapi kalau kalian mau membayangkan tumbuh tambun Ogi untuk melakukan striptise dan akhirnya mencium mbak-mbak itu, saya persilahkan.
Sepuluh menit berikutnya baru dua teman saya datang, ternyata mereka malah menunggu diluar jadi kami selisih jalan. Ogi pun saya kenalkan dengan kedua teman saya yang baru datang. Saya rasa dua orang ini akan kena keanehan dan kebawelan Ogi. Antrian menunggu trans jakarta siang itu cukup banyak. Kami harus menunggu dua bus Trans Jakarta baru kami bisa masuk bus dan duduk. Tidak harus berdiri selama perjalanan kami ke shelter trans jakarta Harmoni. Kami dapat tempat duduk dideretan belakang. Bus trans jakarta saat itu tidak terlalu penuh, hanya sedikit orang yang harus berdiri.
Ogi langsung lelap dalam dunianya sendiri, saling mengirim sms dan masuk dalam jejaring sosial lewat Nokia 6300nya. Namun, selang beberapa lama dia marah-marah sendiri karena meski sudah dicoba beberapa kali, Ogi tetap tidak bisa masuk jejaring sosial itu. Mungkin handphone miliknya sedang tidak dapat jaringan gprs.
Sampai di shelter Harmoni kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, ternyata shelter trans jakarta Harmoni seperti biasa, padat. Antrian begitu panjang dan suara sepatu begitu nyaring terdengar berbenturan dengan lantai shelter busway yang terbuat dari aluminium. Kami semua langsung masuk dalam antrian dengan tujuan shelter Kota. Di antrian depan ternyata ada ribut-ribut, awalnya kami tak tau ada kejadian apa sebenarnya, ternyata ada seorang ibu yang marah-marah karena antriannya diserobot oleh seorang bapak. Sudah pasrah dengan antrian kami pun yakin kali ini kami tidak akan dapat tempat duduk dalam bus sekarang. Benar saja hanya Ogi yang dapat tempat duduk, itu pun didapatnya setelah menyerobot seorang didepannya. Satu hal yang dia lakukan hanya senyum-senyum sendiri menatap kami yang harus berdiri saat itu.
Sesampainya di shelter Kota kami langsung mencari tempat makan. Akhirnya kami makan di Cafe Bank Mandiri. Tempat itu ada diseberang shelter Kota, berada dideretan gedung Bank Mandiri, Museum Bank Mandiri dan Cafe itu ada disamping Museum Bank Mandiri. Tiga dari kami memilih untuk makan soto tapi Ogi memilih untuk makan bakso. Cafe Bank Mandiri tersebut lebih mirip dengan food court seperti yang ada di banyak tempet perbelanjaan.
Selesai dari Cafe Bank Mandiri, kami memutuskan untuk pergi mengunjungi museum Bank Indonesia. Museum Bank Indonesia ini berada di sebelah Museum Bank Madiri. Kalian tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk, karena tiket masuk diberikan secara cuma-cuma, gratis. Disana banyak sekali pajangan koleksi uang yang ada dari dahulu, sejak pertama kali pecahan uang dibuat. Sementara kami bertiga berkeliling, yang dilakukan Ogi hanya foto-foto dirinya sendiri.
“Much..Much fotoin gw dong,”rengeknya.
Kami bertiga hanya bisa ikut-ikutan juga bernarsis, tidak menghiraukan semua benda-benda di museum
lagi.
Selesai bernarsis ria di Museum Bank Indonesia kami menuju ke Kota tua. Dari Museum Bank Indonesia kami hanya perlu berjalan kaki ke Kota Tua. Namun ternyata saat itu Kota Tua ramai, karena ada acara perlombaan Canonphotomarathon. Jadi acara tersebut digelar untuk para komunitas fotografer canon. Tidak dibuka untuk umum. Merasa disana begitu ramai, akhirnya kami menepi dan duduk dipinggir taman. Ogi yang memang tidak bisa menahan nafsu makannya saat melihat deretan penjual makanan yang memang saat itu sangat ramai, langsung membeli es potong. Hanya sebentar waktu yang dia butuhkan untuk menghabiskan es potong itu dan Ogi melanjutkannya dengan membeli es selendang mayang.
Merasa cukup disana terlalu ramai dan tidak membiarkan Ogi menghabiskan semua makanan yang dijual, kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kami di Kota Tua dan berangkat ke Monas. Berjalan diteriknya matahari menuju shelter Kota, benar- benar membuat kami tambah lelah ditambah lagi dengan polusi yang ada. Membuat kami susah bernapas.
Naik tangga ke shelter Kota keadaannya ternyata lebih padat dibanding di Harmoni. Disaat kami semua sibuk dengan padatnya kondisi shelter, Ogi dengan keanehannya malah berjalan kembali menghampiri mbak-mbak penjual minuman di mesin minuman. Kali ini dia benar-benar membeli tidak seperti di Kali deres lalu yang hanya mencoba menggoda penjaganya. Akhirnya rasa penasarannya berakhir.
Sampai di shelter Monas kami langsung berjalan keluar menuju pelataran monas dan masuk sembarangan lewat pager yang agak lebar. Masalah timbul bagi Ogi.
“Much... badan gw enggak muat masuk pager itu. Gmana nih?” tanyanya.
Sontak kami hanya bisa menertawakan Ogi, kali ini kami yang berhasil mengerjai dia. Setelah akhirnya kami bisa masuk kami bisa masuk semua, kami langsung berjalan ke pelataran atas Monas untuk naik ke atas Tugu Monas. Kami pikir sudah tidak cukup waktu karena hari sudah terlalu sore ketika kami sampai di depan Tugu Monas. Namun, kami berhasil meminta kepada penjaga untuk mengizinkan kami naik. Akhirnya setelah mengantri kami berhasil naik denga harga tiket masuk Rp 3.500,-. Dari puncak banyak pemandangan yang kami liat. Ogi membeli koin untuk menggunakan teropong jarak jauh yang tersedia di sana dengan harga Rp 2.000,-. Karena sudah terlalu sore kami tidak bisa berlama-lama diatas sana. Kami pun turun, dan memutuskan untuk duduk-duduk dulu di pelataran taman Tugu Monas.
Sekitar satu jam setengah kami menghabiskan waktu di Taman itu, dan berakhir dengan atraksi air mancur yang bergoyang sesuai dengan aluran musik yang diputar.
Merasa telah cukup kami memutuskan untuk pulang, kembali dengan trans jakarta kami menghabiskan perjalanan hari itu menuju Kali deres.

0 komentar:
Posting Komentar